kursi tamu


sang empunya...

Seseorang yang masih sangat kecil, belum bisa mengarang dengan baik, dan perlu banyak belajar tentang kehidupan ini

sobat

  • Unforgetfull

  • Zizy

  • Sulamit

  • Aal

  • Wulan

  • Ciplok

  • Lee

  • Agri

  • Pak Ikin

  • abdulkarim_aljabar

  • achie

  • glen

  • Ci Nurray

  • Mas_Yoed

  • Ila

  • one

  • pendapat!


    Free shoutbox @ ShoutMix

    pengaruh hidup

    rumahkiri

    tulisan tak bernyawa

    Trima Kasih... Senang berproses bersamamu....
    senang... kaki mulai membaik... tadi bisa mencetak...
    silent
    trima kasih untuk semuanya.... permata
    Ouch!
    Suatu waktu seseorang memegang tanganku dan berkat...
    sedikit kekuatan yang tersisa
    Timli, kawanku :(
    Evanthonny...
    ah...

    sumber inspirasi

    .

    pengharapan...

     This is me... JadenKale

    Blogskins
    Soup-Faerie.com for Cursor

    kumpulan harta sederhana

    Juli 2007
    Agustus 2007
    September 2007
    Oktober 2007
    November 2007
    Desember 2007
    Januari 2008
    Februari 2008
    Maret 2008
    April 2008

    Senin, 2008 April 07



    Trima Kasih... Senang berproses bersamamu....

    worm fumbled with chopsticks @ 13:05 | 0 has delicate hands

    senang... kaki mulai membaik... tadi bisa mencetak gol walaupun harus kalah oleh angkatan 2004... sepertinya semangat untuk terus fight dalam bermain bola terus terasah ketika rutin bermain bersama para tukang ojek di area tempat tinggalku.

    tadi di pangkalan ojek, Hana berteriak memanggilku... dia tampaknya 'ngiler' mendapatiku memakai stelan futsal. pria yang bertato manis dan gemar bermain wanita (kehed siah maneh! :p) ini memang sangat piawai bermain bola. bersama arif Gondrong, dia merupakan salah satu andalan tim muda dalam mengalahkan tim tua. ummm... istilah itu sebenarnya untuk memisahkan kami yang belum menikah dengan rekan-rekan yang lain yang sudah menikah... padahal umur kami tidaklah terlampau jauh.

    Ucup merupakan sahabatku yang tidak pernah jemu datang di depan rumah untuk mengajakku bermain futsal setiap Rabu pagi. tampaknya pria bongsor berpantat besar ini memang lebih "clear" masalah tattoo dibandingkan rekan yang lain. bersama Doyok (sang koordinator), Kacrut, Oki, Devit, Den, dan Tatang; kami seringkali bertaruh dengan tim tua di arena futsal. Tatang memang sudah menikah, tapi dia selalu enggan bermain bergabung dengan tim tua yang memang cenderung tidak kompak... alias egois :p

    walaupun tidak kompak, Tim tua, tim yang rata-rata bertattoo dengan corak lebih menyeramkan dibandingkan tim muda, memiliki skill diatas rata-rata. Kampeng punya akurasi luar biasa! Grandong punya badan yang luar biasa sulit dilewati ketika menjadi bek! Nana alias Chris John karena perawakannya yang mirip dengan petinju itu tidak kalah menyeramkan! belum lagi Kelli dan Koko dan Yusuf yang bisa melewati beberapa orang sekaligus! ada juga ganjar, usup, jawa yang bisa melengkapi tim itu sebagai cadangan. tapi anehnya mereka selalu kalah bila bertaruh dengan tim muda... yaitu tadi, mereka ga kompak!

    beberapa minggu ini kami mendapat tambahan pemain tukang ojek baru bernama Toni. dia bergabung dengan tim muda. Toni memang rekanan lama saya dalam bermain bola di masa kecil. bertaruh, berkelahi bila kalah, dan berlatih ecara keras, memang pekerjaan kami di masa kecil. dari satu lapangan ke lapangan lain. dari satu desa ke desa lain. kami memang merasa menjadi tim yang solid. juga bersama Ucup, Kampeng, Sigit, Arif, Ganjar, Andi; kami sering mendapat pundi-pundi uang untuk membiayai konsumsi yang bisa membuat kami selalu berlatih dengan penuh semangat. pernah kami melawan tim yang terdiri dari pemuda yang lebih dewasa... tapi tetap kami bisa menang! mungkin itulah kelebihan skill Toni, Sigit, Arif, dan Kampeng! mereka bermain bola dengan sangat brilian! saya!? hehehe lebih mirip Gattuso... hanya mengandalkan semangat dan otot! badan boleh kecil, tapi kaki sudah terlatih untuk beradu dan berebut bola dengan kaki2 lainnya... rekan yang lain sering bingung ketika saya memang jarang cedera padahal frekuensi bertubrukkan antar kaki sangatlah tinggi.. mungkin itulah alasannya saya selalu menjadi starter..

    semakin jauh mengenal pribadi lepas pribadi, saya mengenal sisi2 lembut yang dimiliki oleh mereka. senang mendapati rekan-rekan yang seringkali dicap sebelah mata akibat kebiasaan para tukang ojek itu yang lebih dekat dengan judi, obat-obatan, miras, dan wanita...

    Duh, saya harus pergi! mungkin inilah sedikit pengantar tentang kegiatan saya bersama para tukang ojek tersebut... lain kali saya akan menulis sambungannya sama halnya dengan sambungan sang skizo yang belum saya lanjutkan... tapi yang jelas, ada yang lucu. saya bukanlah seorang tukang ojek tetapi saya dianggap member tetap oleh mereka. mungkin karena kedekatan di masa kecil, atau mungkin karena faktor lainnya. tapi yang jelas semoga pertemanan yang menyenangkan ini terus berlangsung selamnya.... thx God! :)

    worm fumbled with chopsticks @ 12:15 | 0 has delicate hands

    Selasa, 2008 Maret 25







    "Cinta ‘kan datang pabila kau percaya," terngiang kata seorang gadis dalam senandung lagunya ketika duduk di sebelahku. Tapi sayang, aku tidak memiliki kepercayaan sekuat itu dengan cinta. Terlebih dengan kecenderungan dan kenyataan diriku tentunya. Aku sedang terdampar, layaknya tersudut untuk menjadi beku. Seolah menunggu datangnya gelap, aku merasa bahwa kapasitasku dalam hal ini sangatlah lemah. Serba salah dan cenderung menjadi jahat. Benarkah???







    "Apakah benar maksud cintaku memang egois dan jahat?"








    Bukan roman atau cinta, kasihku...
    hanya Kasih yang kupilihkan untukmu...
    Setertatih-tatihnya diriku ini...
    Kudoakan selalu yang terbaik untukmu...
    Percayalah, karena hanya inilah yang saat ini bisa kulakukan...




    ... Sigh …







    Kini hanya bisa berharap dapat menjadi anak yang baik, dengan segenggam cinta yang mungkin belum cukup berarti. Sadar dan menyadari segala yang telah terjadi. Senyum, dan memilih untuk tersenyum bahagia dalam menjalani segala sesuatunya. Berdamai tentu saja! Ketika kusadari, bahwa cintaku, memang tak cukup mudah untuk dipahami… dan tidak perlu juga untuk dipahami…







    worm fumbled with chopsticks @ 09:58 | 0 has delicate hands

    Rabu, 2008 Februari 20

    trima kasih untuk semuanya....

    permata

    worm fumbled with chopsticks @ 06:53 | 1 has delicate hands

    Senin, 2008 Februari 18

    Lagi-lagi aku bertemu sosok itu! berdiskusi sedikit masalah kehidupan, hal itu membuatku termenung... hmmmph... jadi teringat sharing-ku terhadap seorang teman baik tentang kelemahanku dalam suatu hal. Asa rasanya diobrak-abrik oleh realita kehidupan ini. sosok itu berumur 44 tahun, dan entah mengapa aku selalu rapuh bertemu sosok yang memerhatikanku layaknya seorang ayah. mungkin aku belum berdamai dengan keutuhan diri ini.
    Pyuh... terasa lelah dalam diri ini... tertatih-tatih... entahlah, istilah itu benar2 membuatku terhenyak dan akhirnya menyadari bagian diri yang serupa. sudah... tampaknya semakin jelas apa yang harus kulakukan dengan diriku... mungkin hal itu memang bukan kapasitasku, dan aku muak dengan ketidakmampuanku itu... payah...
    senang menemukan sosok yang memahami rapuhnya diri ini. terima kasih!! seperti akhir dialektika kita saat itu, biarlah semuanya berlandaskan hukum yang pertama dan kedua itu. hukum yang tidak identik dengan hukum-hukum yang ada di kefanaan dunia ini. sesuatu yang berlandaskan kasih... karena yang kutahu BELIAU adalah "KASIH".... trima kasih sosok dewasa :) saya memang masih terlalu naif dan muda :p kiranya kasih karunia itu senantiasa menyertai kita semua, karena bagi saya itu bukanlah suatu candu ^^
    "O, Lord, help us (all) to do so..."

    worm fumbled with chopsticks @ 07:16 | 0 has delicate hands

    Kamis, 2008 Januari 10

    Suatu waktu seseorang memegang tanganku dan berkata: “kamu kurusan, kontrol dirimu Den!” sembari tersenyum hangat.

    Lantas dalam perjumpaan singkat di suatu malam yang ramai, adikku berkata: “abang, selalu tambah kurus!”. Terasa kekesalan dalam ucapannya.

    Lalu si dia berkata, “tadi saya melihat foto kamu, kurus!” :)

    Ketika kuantar menuju tempat bekerja, mama memegang tubuhku dan berucap: “kurus pisan, kamu tidur yang bener! makan juga!”

    Bahkan kemarin, ketika menunjukkan anaknya yang gemuk-besar padaku; A Agus berkata, “tuh liat Om Deni, tangannya tulang semua." Sambil tertawa-tawa.



    Hahaha semuanya menggila! Mungkin skripsi ini memang harus segera selesai agar tidak semakin terhisap tubuhku akibat pikiranku yang kadang tak bisa terkendalikan. Lantas selanjutnya? Um… menjadi orang; mengasihi orang-orang; dan mungkin menemani dia, orang yang terlanjur kusayangi itu…

    Pyuh, bahagia rasanya memiliki pengharapan tanpa kehendak yang berlebih. Terus dan terus mencari formula yang tepat agar bisa berusaha, bersyukur, juga berserah terhadap segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini. Sesuatu yang tidaklah mudah.


    “O’ God, help me to do so…”


    “Tak selamanya yang tampak buruk itu mendatangkan sesuatu yang buruk. Dan tak selamanya sesuatu yang mengakibatkan keburukan membuat hidup menjadi lebih buruk.”


    worm fumbled with chopsticks @ 22:37 | 1 has delicate hands

    Rabu, 2007 Desember 05

    Ah mungkin bener ide tentang tanda ( ... ) yang terdapat pada orang yang punya potensi bunuh diri. Pembahasan mengenai Sylvia Plath tampaknya cukup menghantuiku. Tapi melihat realita, semua yang terjadi tampaknya gila sekali. Saat menghadapi masa ujian anak2 les, aku mengalami kecapekan luar biasa. Bisa disebut penghisapan bagi orang yang berpikir kritis, tapi bisa juga disebut sebagai kesenangan untuk orang2 yang memandangnya sebagai suatu pilihan. Aneh... tatkala aku membulatkan tekad untuk keluar dari tempat les itu, banyak hal yang kualami. Kedekatanku dengan anak-anak tampaknya tidak hanya sepihak saja.

    Tiga hari yang lalu, Ira dan Nata les sampai jam setengah sepuluh malam. mereka semangat sekali! saat itu mereka minta diajarin matematika. Lucu, sementara Lim sudah uring-uringan dan akhirnya pulang terlebih dahulu; Ira (yang merupakan saudara Lim) lebih memilih untuk bertahan. Tadi, mereka juga senang di tempat les. seolah-olah menemukan komunitas, mereka mengungkapkan kebahagiaan berada di tempat les. "ko deni lucu!" itu celetukan yang sering mereka ungkapkan. Atau bisa berubah menjadi "ko deni aneh!" tatkala melihatku marah-marah pabila mereka sudah keterlaluan. Tapi dominannya, kami belajar dengan penuh canda. Ira bahkan berkata kepada Nata dan Lim tadi. "senang ya lama-lama di tempat les". begitu katanya!

    Begini kebiasaan kami. Ira suka memerhatikan mukaku dan kemudian tertawa-tawa, "ih Ko deni jerawatan!' "um... Ko deni cakep juga." atau "ko deni kayak Jojon!" hehehe sementara Nata gemar menendang2 kakiku ketika diterangkan suatu materi. lain lagi Lim. dia tampak riweuh untuk menenangkan dirinya ketika belajar. kebiasaanku memegang beberapa anak sekaligus sering membuat Lim kesal. "ko deni lelet!" katanya berulang kali dahulu. tapi sekarang celetukan itu jarang terjadi. malah pernah aku mendapati dia sedang menuliskan kata 'tenanglah, ten...' dalam bukunya. ketika kutanya maksudnya apa, dia menjawab bahwa hal itu untuk mengatasi dirinya. ckckckck hebat usaha si Lim...

    sementara itu, Fendy (mantan anak les didikku yang hendak berniat bunuh diri dahulu) ternyata kembali mengikuti les. Fifi (adiknya Fendy) yang sangat manis dan selalu manja di dekatku tampaknya membuat Fendy tertarik kembali untuk mengikuti les. Awalnya canggung, tapi ternyata kami masih dekat walaupun sempat terpisahkan waktu. Beberapa jam yang lalu, dia menungguiku dan mengajakku pulang bersama. Dia bahkan rela menungguiku mengajar trio Nata, Lim, Ira hingga jam delapan malam.

    "ko deni sudah mengajar saya dengan baik, makanya saya harus membalas kebaikannya dengan mengantar pulang." begitu kata Fendy kepada ibu Lena. Tapi, alih-alih pulang bersama, kami berkeliling kompleks hingga jam 9 malam. Bersama motornya, kami berbincang-bincang sepanjang jalan. masalah keluarga, percintaan, pelajaran, Bullying, bahkan masa-masa romantik kami ketika les bersama beberapa tahun yang lalu membuat kami tertawa sepanjang jalan. namun ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. kebiasaan Fendy menulis sms seperti ini: "Bing...semua yang dipelajari...agama dari bab1...-5..., dst." (duh, hpnya lowbat!) sangatlah menghantuiku. tanda (...) dan potensi bunuh diri cukup membuatku cemas.

    d: "Fen, kamu sudah mulai menulis tanda (...) di sms sejak kapan?"
    f: "Sejak punya handphone Ko, saya senang menulis tanda seperti itu."
    d: "Oh ya, hmm... benarkah kamu merasa senang menulis tanda itu?"
    f: "yupz! hehehe"

    masih perlu diselidiki, tapi aku senang ketika dia berencana memantapkan hidupnya menjadi seorang pengacara. atau solusi dirinya untuk mengatasi mamanya yang sangat keras dalam mendidiknya.

    "begitu Ko, kalo orang Cina. laki-laki sangat dididik keras. makanya kalo mama marah, saya lebih memilih diam saja." ungkapnya. suatu bentuk usaha memahami kultur dan kapasitas yang ada di keluarganya dalam benak remaja semuda Fendy.

    Sebelumnya, Lim miscall. aku tahu, mereka senang pulang bareng denganku. saat Lim miscall, pasti mereka sedang menunggu di pos satpam. haha begitulah mereka. selalu pulang terakhir dibandingkan yang lain. senang tatkala suatu waktu mereka mendapati sendal jepitku putus ketika pulang bersama. hehehe. tapi malam itu, Fendy seolah-olah membuatku tidak mungkin pulang bersama trio kwek-kwek itu. Dia ingin menghabiskan jam malamnya berdua saja. dia pun menunjukkan aku rumahnya, juga rumah Vina yang dekat dengannya, rumah Alex yang menurut Fendy seperti istana, beberapa tempat jajanan yang menyenangkan, dan akhirnya kami berdiam di sebuah tempat fotokopian untuk mempersiapkan bahan les esok hari.

    tiba-tiba aku teringat buku Acel yang harus ku kembalikan. anak ini selalu menganggapku mirip dengan bapaknya. Bassis piawai, dan shooting guard yang sangat dihandalkan di sekolahnya membuat anak ini cukup populer. Aku menelepon Acel dan meminta dia menungguiku di depan Yomart agar memudahkan pengembalian buku. saat dia tiba di Yomart, aku sedikit jahil bersama Fendy. kami berdiri di seberang jalanan yang gelap dan pura-pura tidak melihatnya. "bing!" "KOooooo DenIIIIIIiiiii!!!" (dar dor dueer!) begitu teriak Acel tatkala melihat kami. dia merasa dipermainkan. hehehe dia tampak kesal, tapi aku berusaha menghiburnya. dia tersenyum, dan setelah itu kami pamit undur.

    Oh iya, aku jadi teringat dua bersaudara si Evan dan kakaknya Vincent. si 'ndut itu akhirnya ikut les lagi. parahnya si 'Ndut ini masih berorientasi makanan dan perempuan. suatu waktu, tanpa kusadari, dia membaca buku agendaku. dia merasa sedih dengan beberapa tulisan yang ada disana. tapi kemudian dia berkata: "Ko deni, buku ini saya beri ke Vina ya Ko, nanti dia baca trus merasa iba. trus dia mau sama Ko Deni. kan lumayan Vina cantik Ko!" gila!!! huh dasar gendeng! :p

    Atau pernah suatu waktu ibu Lena memberikanku sate. tapi lucunya saat aku belum berselera makan, Vincent beberapa kali mengingatkanku. "Ko deni satenya ga dimakan?" lalu beberapa menit kemudian dia muncul lagi, "Ko deni satenya dingin Ko!" lantas beberapa saat selanjutnya, "Ko, mau saya bukakan bungkus satenya?" hahahaha! Vincent, Vincent.

    sementara saya dan Evan kini dijuluki ayah dan anak karena kecocokan karakter kami yang aneh. hehehe. Jadi teringat kata Aal, pokoknya besok aku akan merencanakan pergi ke Museum Geologi sehabis ulangan umum. :)

    bicara mengenai karakter yang aneh, saya jadi teringat dua kawan dekatku.

    sekali lagi saya dengan tulus meminta maaf atas kecenderungan diri ini yang mungkin sulit untuk bisa dipahami. :(

    terima kasih mas untuk tegurannya. jika memang kondisi material memihak, saya pasti berada bersamamu. jangan pernah merasa ditinggalkan. kemarin memang saya memilih prioritas yang lain. I'll be back! mari kita tuntaskan ide-ide pengabdian yang harus dilakukan. ampuni kelalaian saya dalam kepanitiaan itu.

    lalu, teman baik,
    saya tidak tahu harus berkata apa? tatkala apa yang saya pikir baik untuk menyelesaikan masalah ternyata malah menambah luka dalam dirimu; saya merasa sangatlah tidak baik untukmu. pyuh... tidak mau menjadi lebih jahat bila memang sudah terasa jahat. aku mau menghargai pilihanmu saja. maafkan saya yang tidak mengerti dan juga sulit untuk dimengerti ini. Kiranya BELIAU menyertaimu selalu.

    semoga suatu saat nanti bisa menjadi orang baik.
    "O God, help me to do so..."

    worm fumbled with chopsticks @ 08:48 | 1 has delicate hands